Sejarah Singkat Desa Pering

Desa Pering memiliki sejarah yang sangat unik.

Kekayaan Wisata di Desa Pering: Pura

Selain dikenal dengan keindahan wisata alamnya, Pulau Bali juga dikenal sebagai Pulau Seribu Pura

Kekayaan Wisata di Desa Pering: Kerajinan Pahat Kayu

Di Desa Pering tersimpan berbagai kekayaan budaya, salah satunya adalah kerajinan pahat kayu.

Kekayaan Wisata di Desa Pering: Sanggar Seni Gita Lestari

Salah satu perangkat kostum tari di Sanggar Seni Gita Lestari

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Sejarah Singkat Desa Pering: Dusun Sema


Masyarakat sema adalah pengiring Gusti Agung yang pergi dari gelgel atas perinah Ida Palungguh Dalem untuk mencari tanah (tempat tinggal) yang keramat (tanah yang bersinar/bercahaya). Setelah mengelilingi Buleleng, Negara. Jimbaran, Adung. Menguwi maka akhirnya menetap di Sema tetapi tidak bertahan lama menetap karena

Desa Sema terlalu keramat dan akhirnya pindah ke Desa Keramas, hanya pengikut (pengiringnya) masih tinggal di Sema yang kemudian menjadi pengemon Pura Penataran milik Gusti Agung di Dusun Sema.

Sejarah Singkat Desa Pering: Dusun Tojan


Dalam sejarah Dusun Tojan dipaparkan bahwa pada waktu jaman kerajaan di Bali, di mana masing-masing raja mempuyai pasukan atau prajurit-prajurit kerajaan di gelgel ditempatkan orang orang handalan raja yang berlokasi disebelah barat Sungai Haa (Toya Haa) dan merupakan orang-orang pilihan yang mempunyai jiwa kepahlawanan serta memiliki sikap berani mati (Metoh Jiwa). Prajurit-prajurit ini senantiasa disiagakan siap menerima perintah raja untuk berperang atau bertempur mati-matian untuk membela raja, mereka menyatukan diri untuk Metoh Jani, artinya mempertaruhkan jiwa membela raja.
Dari kata Metoh jani ini secara langsung disebabkan pula wilayah bermukimnya para prajurit dan dari kata tohjani inilah menjadi sebutan Tohjan dan untuk mempersingkat atau mempermudah ucapan disebut Tojan. Jadi Desa Tojan klungkung tidak pernah terlepas kaitannya dengan Dusun Tojan di Pering Blahbatuh, karena Dusun Tojan berasal dari pengiring Arya Jelantik Kesah (pergi dari Gelgel) Didalam perjalanan dari gelgel ke Tojan yang diikuti oleh bala tentara/ prajurit maka sampai di Tojan klungkung setelah bala prajurit melihat d kebun tebu ada burung perkutut, disana menurut perkiraaan prajurit tidak mungkin lewat ke Tojan terbukti burung perkutut masih ada diatas tebu, sehingga Tojan yang ada di klungkung karena dipandang sangat berjasa, makan dipindahkan ke Tojan Pering, Blahbatuh asal mulanya Arya Jelantik.

Sejarah Singkat Desa Pering: Dusun Perangsada


Perangsada berasal dari kata “Paras dan Sada”, secara leksikal “Paras” berarti Padas sedangkan “Sada” berarti agak baik. Sehingga Paras sada berarti tempat batu padas yang agak baik. Masyarakat Parangsada berasal dari keturunan Wala Singa (Blangsinga) yang pada mulanya datang berdua mencari batu padas, kemudian mendirikan padukuhan.
Setelah lama mencari batu padas, mereka berkaul apabila mereka mendapatkan rejeki ditempat tersebut, mereka akan mendirikan Pura Penataran. Pura ini telah menyimpan banyak peninggalan sejarah dan purbakala berupa Arca Klasik.

Sejarah Singkat Desa Pering: Dusun Pering


Secara leksikal, Pering berarti bamboo atau nama warga pering (keturunan Brahmana). Wilayah Desa Pering ini dahulu merupaka kawasan hutan yang lebat dipenuhi dengan pohon bambu onak duri. Pengiring dari pendeta yang bernama Dukuh Jempungan dan berikutnya diceritakan kisah I Gede Bendesa Pering yang amat dihormati oleh rakyatnya karena kearifan dan kebijaksanaan beliau dalam memimpin seluruh Arya di Pering.

Pura Gedongsari di Desa Pering
Hal ini terbukti sampai sekarang banyak peninggalan arkeologi ditemukan berupa arca-arca kuno dan arca kuda di Pura Puseh, yang dikatakan, sebagai tunggangan Ida Pedanda Sakti Wahurah. Peninggalan-peninggalan benda purbakala yang lain masih ditemukan di Pura Botohan dan Pura Dalem Pering yang diperkirakan sudah berdiri sejak abad 13-14 Masehi.

Sejarah Singkat Desa Pering: Dusun Patolan


Dusun Patolan adalah sebuah dusun kuno yang sudah ada sejak Empu Matolan tinggal di dusun tersebut bersama anak dan cucunya serta Swogotronyu (siswanya).

Sejak tahun Caka Sunya Asti Geni Tunggal (Caka 1380 atau tahun 1459 SM) lalu, Empu Matolan membuat pasraman di rumah Mangku Made Parsa Sekarang dan membangun tempat suci (kahyangan) untuk melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadi.

Berkat ketekunan dalam semadi, beliau mendapatkan pawisik agar beliau membangun pelinggih tempat suci yang diberi nama Pura Tapasidi yang terletak di Dusun Sema yang menyimpan banyak peninggalan abad 14-15 M. Selanjutnya Empu Matolan membangun kayangan desa untuk Desa Adat Patolan. Dengan demikian, kata matolan lama-lama terkenal menjadi Patolan.

Pura Tapasidi (klik untuk memperbesar)
Sampai sekarang masyarakat Patolan tetap memuja peninggalan "Harta Pusaka" Empu Matolan yang berupa Suwamba (Pewedan) Bajra, Padupan, Teken, dan Tombak Pengawin yang masih tersimpan di Rumah Mangku Made Parsa sebagai benda warisan leluhur. Benda-benda ini pun sampai sekarang tetap dilestarikan dan dikramatkan, juga digunakan setiap ada upacara kematian di mana Warga Patolan tetap nunas tirta pengentas ke rumah Mangku Made Parsa dan tidak ke  griya.