Sejarah Singkat Desa Pering

Desa Pering memiliki sejarah yang sangat unik.

Kekayaan Wisata di Desa Pering: Pura

Selain dikenal dengan keindahan wisata alamnya, Pulau Bali juga dikenal sebagai Pulau Seribu Pura

Kekayaan Wisata di Desa Pering: Kerajinan Pahat Kayu

Di Desa Pering tersimpan berbagai kekayaan budaya, salah satunya adalah kerajinan pahat kayu.

Kekayaan Wisata di Desa Pering: Sanggar Seni Gita Lestari

Salah satu perangkat kostum tari di Sanggar Seni Gita Lestari

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Sejarah Singkat Desa Pering: Dusun Pering


Secara leksikal, Pering berarti bamboo atau nama warga pering (keturunan Brahmana). Wilayah Desa Pering ini dahulu merupaka kawasan hutan yang lebat dipenuhi dengan pohon bambu onak duri. Pengiring dari pendeta yang bernama Dukuh Jempungan dan berikutnya diceritakan kisah I Gede Bendesa Pering yang amat dihormati oleh rakyatnya karena kearifan dan kebijaksanaan beliau dalam memimpin seluruh Arya di Pering.

Pura Gedongsari di Desa Pering
Hal ini terbukti sampai sekarang banyak peninggalan arkeologi ditemukan berupa arca-arca kuno dan arca kuda di Pura Puseh, yang dikatakan, sebagai tunggangan Ida Pedanda Sakti Wahurah. Peninggalan-peninggalan benda purbakala yang lain masih ditemukan di Pura Botohan dan Pura Dalem Pering yang diperkirakan sudah berdiri sejak abad 13-14 Masehi.

Sejarah Singkat Desa Pering: Dusun Patolan


Dusun Patolan adalah sebuah dusun kuno yang sudah ada sejak Empu Matolan tinggal di dusun tersebut bersama anak dan cucunya serta Swogotronyu (siswanya).

Sejak tahun Caka Sunya Asti Geni Tunggal (Caka 1380 atau tahun 1459 SM) lalu, Empu Matolan membuat pasraman di rumah Mangku Made Parsa Sekarang dan membangun tempat suci (kahyangan) untuk melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadi.

Berkat ketekunan dalam semadi, beliau mendapatkan pawisik agar beliau membangun pelinggih tempat suci yang diberi nama Pura Tapasidi yang terletak di Dusun Sema yang menyimpan banyak peninggalan abad 14-15 M. Selanjutnya Empu Matolan membangun kayangan desa untuk Desa Adat Patolan. Dengan demikian, kata matolan lama-lama terkenal menjadi Patolan.

Pura Tapasidi (klik untuk memperbesar)
Sampai sekarang masyarakat Patolan tetap memuja peninggalan "Harta Pusaka" Empu Matolan yang berupa Suwamba (Pewedan) Bajra, Padupan, Teken, dan Tombak Pengawin yang masih tersimpan di Rumah Mangku Made Parsa sebagai benda warisan leluhur. Benda-benda ini pun sampai sekarang tetap dilestarikan dan dikramatkan, juga digunakan setiap ada upacara kematian di mana Warga Patolan tetap nunas tirta pengentas ke rumah Mangku Made Parsa dan tidak ke  griya. 

Rabu, 30 Juli 2014

Kekayaan Wisata di Desa Pering: Pura

Selain dikenal dengan keindahan wisata alamnya, Pulau Bali juga dikenal sebagai Pulau Seribu Pura. Hal ini dikarenakan mayoritas dari penduduk Bali beragama Hindu dan Pura adalah tempat beribadahnya. Secara harafiah, Pura diambil dari bahasa Sansekerta “Pur” yang berarti kota benteng, atau benteng. Jadi, Pura yang ada di Bali berfungsi sebagai benteng dari segala hal yang negatif.

Untuk diakui sebagai desa pakraman (banjar atau dusun) yang resmi, setiap banjar harus memiliki tiga pura utama atau biasa disebut Tri Kahyangan atau Kahyangan Tiga.

Pura Tri Kahyangan terdiri dari tiga macam pura, yaitu:
  • Pura Desa
    • Merupakan Pura Dewa Brahma yang merepresentasikan pencipta.
  • Pura Puseh
    • Merupakan Pura Dewa Wisnu merepresentasikan pemelihara.
  • Pura Dalem
    • Merupakan Pura Dewa Siwa yang merepresentasikan pelebur.

Pura Puseh di Banjar Sema (klik untuk memperbesar)
Selain Tri Kahyangan, terdapat pula Pura Sad Kahyangan. Pura Sad Kahyangan adalah pura yang biasa dikunjungi oleh masyarakat luas, dan sering kali digunakan sebagai tempat wisata. Contoh-contoh Pura Sad Kahyangan adalah Pura Uluwatu, Pura Besakih, dan Pura Tapaksiring.

Karena Desa Pering terdiri dari enam banjar, total pura yang termasuk dalam Tri Kahyangan adalah delapan belas pura. Selain 18 pura tersebut, masyarakat juga memiliki beberapa pura pribadi yang terdiri dari gabungan beberapa keluarga atau kelompok maupun milik keluarga pribadi.

Pura Tapasidi di Banjar Sema (klik untuk memperbesar)
Seperti setiap pura yang ada di Bali, pura di Desa Pering juga memiliki keindahan dan eksotisme tersendiri. Seperti Pura Tapasidi yang terletak di Banjar Sema yang pada awalnya dibangun oleh Empu Matolan pada sekitar abad ke 14-15 Masehi. Sampai sekarang banyak peninggalan arca di sekitar pura ini, dan kepercayaan masyarakat Patolan tetap memuja peninggalan “harta pusaka” Empu Matolan berupa Suwamba (Pewedan) Bajra, Padupan, Teken, dan Tombak Pengawin. Benda-benda kuno tersebut, sampai sekarang masih tersimpan di rumah Mangku Made Parsa sebagai benda warisan leluhur yang tetap dilestarikan dan dikeramatkan.


Pura Segara Wilis di Banjar Patolan (klik untuk memperbesar).
Langsung berhadapan dengan pemandangan Pantai Pering.
Selain itu, Desa Pering juga memiliki satu Pura Sad Kahyangan. Pura itu bernama Pura Segara Wilis yang terletak di Banjar Patolan, tepatnya di tepi Pantai Pering.

Sejarah Singkat Desa Pering

Nama suatu desa atau wilayah umumnya mempunyai makna tertentu yang dimaksudkan untuk mengenang suata kejadian atau peristiwa atau hal-hal yang dianggap penting yang mempunyai nilai historis pada saat nama itu diberikan.

Pura Kahyangan Tiga di Banjar Perangsada (Klik untuk memperbesar)

Di Bali pada khususnya nama desa atau wilayah dikaitkan dengan sejarah raja-raja masa Hindu Bali atau masa Bali kuno. Selain itu, dipengaruhi oleh masa Kerajaan Majapahit, Kerajaan Samprangan, dan Kerajaan Gelgel seperti yang dijumpai pada prasasti dan babad (sima) tentang sila-sila atau keturunan orang di Bali. Kemudian juga dipengaruhi oleh struktur dan system pemerintahan raja-raja di Bali sampai penguasa desa.


Desa Pering memiliki sejarah yang sangat unik.